Jumat, 14 Juli 2017

Anak Disgrafia

Disgrafia adalah cacat transkripsi, yang berarti bahwa disgrafia adalah gangguan menulis yang terkait dengan tulisan tangan terganggu, coding ortografi (proses penyimpanan kata-kata tertulis dan pengolahan huruf dalam kata-kata), dan mengurutkan jari (gerakan otot yang dibutuhkan untuk menulis).Orang dengan disgrafia sering dapat menulis pada tingkat tertentu dan mungkin kurang keterampilan motorik halus, contohnya mereka menemukan tugas-tugas seperti mengikat tali sepatu sulit, tetapi tidak mempengaruhi semua keterampilan motorik halus. Orang dengan disgrafia juga sering mengalami kesulitan yang tidak biasa dengan tulisan tangan dan ejaan yang pada gilirannya dapat menyebabkan kelelahan menulis.Anak yang mengalami disgrafia memiliki kesulitan khusus, yaitu anak tidak bisa menuliskan atau mengekspresikan pikirannya ke dalam bentuk tulisan karena mereka tidak dapat menyusun huruf atau kata dengan baik dan mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis. Kesulitan ini tidak tergantung kemampuan lainnya. Seseorang bisa sangat fasih dalam berbicara dan keterampilan motorik lainnya, tapi mempunyai kesulitan menulis. Tanda-tanda anak yang mengalami gangguan disgrafia yaitu menghapus tulisan terlalu sering, tidak detail saat menulis, tulisan sulit dibaca dan mungkin merasa sakit saat menulis. Penyandang disgrafia biasanya sulit termotivasi. Cacat mereka menyebabkan trauma emosional (seperti harga diri, menurunkan self-efficacy, kecemasan tinggi, dan depresi). Disgrafia adalah gangguan yang sulit dideteksi karena tidak berdasarkan usia spesifik, gender, atau intelegen. Adapun ciri-ciri anak disgrafia yaitu ukuran dan bentuk huruf ukurannya tidak proposional, cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional, serta sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Maka dari itu butuh penanganan khusus untuk menangani anak yang mengalami gangguan disgrafia yaitu orang tua mampu memahami keadaan anak berusaha untuk tidak membanding-bandingkan anak yang mengalami gangguan ini dengan anak lain yang normal karena akan membuat anak menjadi merasa tidak diperhatikan oleh orang tuanya daripada membanding-bandingkan anaknya dengan anak normal lebih baik orang tua membangun rasa percaya diri anak dengan cara berikan pujian pada anak disetiap usaha yang dilakukan oleh anak jangan menyepelekan hal-hal yang dilakukan anak karena itu akan membuat anak merasa rendah diri dan frustasi. Kemudian bisa juga dilakukan dengan cara orang tua melatih anak untuk terus menulis dengan memberikan tugas untuk anak seperti menulis surat untuk teman hal itu dapat membantu anak untuk melatih menulis huruf dan kata dalam membentuk suatu kalimat dalam tulisan yang mampu meningkatkan anak disgrafia dalam menulis. 

Anak Down Syndrome

Down syndrome adalah suatu kondisi dimana genetik tambahan menyebabkan keterlambatan perkembangan anak dan kadang mengacu pada retardasi mental. Gangguan perkembangan anak terjadi pada usia 0-12 tahun. Setiap tahap perkembangan memiliki potensi gangguan perkembangan yang berbeda-beda, tergantung pada fase perkembangan yang dialami disetiap usia anak. Masa anak merupakan dasar pembentukan fisik dan kepribadian pada masa berikutnya. Down syndrome terjadi karena kelainan susunan kromosom ke 21, dari  23 kromosom manusia. Pada manusia normal 23 kromosom tersebut berpasang-pasangan hingga jumlahnya menjadi 46. Anak dengan down sindrom memiliki kelainan pada kromosom nomor 21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana mestinya, melainkan tiga kromosom (trisomi 21) sehingga totalnya menjadi 47 kromosom dan informasi genetika menjadi terganggu dan anak juga mengalami penyimpangan fisik. Down syndrome dipengaruhi oleh beberapa faaktor, yaitu faktor genetik, faktor radiasi, faktor umur ibu dan faktor umur ayah. Faktor tersebut mengakibatkan adanya abnormalitas pada kromosom 21 yang terjadi akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
           Ciri-ciri anak usia dini yang mengalami gangguan down syndrome. Gejala yang muncul akiba tdown syndrome dapat bervariasi mulai dari tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul ciri- ciri yang khas seperti berikut ini :
1.  Penderita down syndrome dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal ( Mikrochephaly) dengan bagian anteroposteror kepala mendatar.
2.   Penderita down syndrome memiliki paras wajah yang hampir sama seperti wajah orang mongol.
3.      Pada bagian wajah penderita down syndrome biasanya tampak selak hidung yang datar.
4.      Pertumbuhan gigi penderita down syndrome lambat dan tidak teratur.
5.      Paras telinga lebih rendah dan lehernya agak pendek dan kepala biasanya lebih kecil .
6.    Sering kali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds) sebesar 80%.
7.   Penderita down syndrome memiliki kulitl embut kering dan tipis. sementara itu lapisan kulit  biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). 
Permasalahan yang terjadi pada anak down syndrome dalam kehidupan sehari-hari yaitu kebiasaan di rumah dan kondisi anak down syndrome akan membawa suasana yang kurang kondusif terhadap kegiatan pembelajaran di sekolah. Maka dari itu bagi orang tua yang mempunyai anak yang mengalami down syndrome untuk membantu anak dalam kebiasaan yang dilakukan anak saat dirumah karena jika kebiasaan anak down syndrome akan membawa kondisi anak terhadap kegiatan pembelajaran disekolah misal anak down syndrome kesulitan belajar mengingat keterbatasan anak dalam akademik untuk mempelajari setiap mata pelajaran seperti matematika, IPA hal tersebut perlu arahan atau pendampingan dari guru agar anak mampu mempelajari materi yang diberikan oleh guru saat disekolah. Kemudian tingkat kecerdasan yang dimiliki anak down syndrome tidak saja berpengaruh terhadap kesulitan belajar, melainkan juga terhadap penyesuaian diri. Kepribadian yang dimiliki oleh anak down syndrome tidak seimbang. Terkadang tenang, terkadang juga kacau, sering termenung berdiam diri, namun terkadang menunjukan sikap ngambek dan mudah tersinggung. Anak down syndrome bisa ditangani dengan terapi fisik, terapi fisik yang dapat digunakan adalah dengan terapi treadmill yaitu dengan cara melatih ibu, pengasuh dan pendidik paud anak yang mengalami down syndrome. Selain dengan terapi fisik orang tua bisa melakukan dengan cara memberi sentuhan (bisa mengelus atau memijat) pada anak karena sentuhan tersebut dapat memberikan kenyamanan pada mereka yang dapat mengurangi hormon catecholamine (hormone penyebab stress) pada mereka.